Senin, 15 Juni 2015

Saya Tak Mau Menghilang

Hari ini, saya menghabiskan sepanjang pagi di ruang laboratorium TIK. Bersama beberapa teman sekelas. Hari ini aku merasa kesepian pada awalnya, tapi bahagia akhirnya. Sepertinya begitu, dan semoga begitu.

Saya, selalu bersyukur untuk memiliki teman-teman seperti mereka. Meskipun saya terkadang merasa heran, mengapa saya terkadang masih merasa hilang. Tapi perlahan, saya menyadari. Saya menyayangi mereka dan beginilah caranya untuk berhenti terus menghilang.

Sebelas mia tiga, rasanya baru kemarin saya mengenal kalian. Tapi sekarang, saya sudah mencintai kalian. Setiap dari kalian. Dan semakin hari saya semakin tidak ingin kehilangan kalian. Dan begitulah cara saya untuk berhenti menghilang.

Hari ini, kami bergelut dalam tugas demi tugas yang rasanya tak pernah ada habisnya. Sadar bahwa seandainya kami memanfaatkan waktu dengan baik, dulu, semua tidak akan seperti ini. Tapi justru beginilah caranya untuk tidak menghilang. Beginilah kami membangun rasa cinta dan kasih sayang. Rasa peduli pada satu sama lainnya. Beginilah cara kami membangun rasa tenggang rasa dan kerjasama. Beginilah, beginilah kami dapat tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang pada saat-saat biasa tidak lucu untuk ditertawakan. Maka saya, tidak mau menghilang.

Sahabatku, sebentar lagi kita beranjak kelas tiga. Atau kita telah menjadi kelas tiga sekarang??

Kawan-kawanku, bukankah sebentar lagi bulan puasa, Ramadhan pertama kita. Yang ingin kuungkapkan adalah, kita akan menghadapi libur satu bulan lamanya. Dan sepertinya saya akan merindukan kalian. Merindukan kita. Merindukan saat-saat seperti ini. Hahahahahaha....





                                                                                               Dalam hari yang indah,
                                                                                                            Nanda

Jumat, 29 Mei 2015

It was "US"

Hallo, teman-teman. Apa kabar kalian? Kemarin BTS, and I was without you. Tapi bukan berarti aku tidak bahagia. Aku bahagia di sini. Bersama sahabat-sahabat baru. Aku menikmatinya, sangat. Di sini aku tidak lagi merasa asing dan sendirian. Aku punya mereka yang selalu baik dan perhatian padaku. They make my day always. Walau begitu, aku tetap merindukan kalian.



Saat-saat kebersamaan kita, yang meskipun dulu aku kurang memaknainya. Tapi baru kusadari sekarang, setiap kenangan bersama kalian adalah hal-hal menakjubkan dan berharga untuk selalu kukenang selamanya. Aku rindu tertawa bersama kalian. Aku rindu ngobrol dan berbagi cerita dengan kalian. Aku rindu mengerjakan tugas bersama kalian. Aku rindu teriakan dan candaan kita dulu. Aku rindu semua yang dulu kita lakukan bersama. 


Aku masih ingat semuanya. Masih jelas, sangat. Mungkin kalian dan bahkan semua orang akan menganggap ini sebagai sesuatu yang sentimentil. aku hanya setahun bersama kalian, dan kita baru berpisah setahun juga. Meski kita tidak berada di bawah atap yang sama lagi, tapi bukankah setidaknya kita masih berada di dalam gerbang yang sama? Iya, tapi aku tetap merasa jauh dari kalian.
Terkadang aku ingin mengunjungi kalian, mencoba terus menikmati kebersamaan seperti dulu lagi. Tapi, biar bagaimana pun, aku sadar. Semua tidaklah sama lagi. Semua berubah. Kalian berubah. Aku berubah. Dan kita pun juga berubah. Mungkin impian masa depan kita yang kuangankan dahulu telah berubah, tapi kenangan masa lalu kita akan tetap dan selalu sama dan utuh.
Aku memang bukan tipe orang yang asik, I know it. Dan aku cukup kaku untuk menghadapi perubahan, dalam arti perubahan sikap. Tapi aku rasa, aku adalah orang yang selalu mencoba menghargai setiap kenangan sebagai sesuatu yang indah untuk dikenang. Aku, ingin tetap bersikap seperti biasanya dulu, tidak canggung dengan kalian. Tapi sulit.
Aku tidak tahu, apa kalian juga rindu padaku atau malah tidak pernah ada aku dalam benak kalian sampai saat ini. Apalagi setelah kalian menikmati hari-hari baru tanpaku, melainkan bersama mereka yang menggantikanku. Yang jelas, aku tahu. Aku tahu aku sayang kalian semuanya, aku kangen kalian, rindu kalian, akan terus begitu, sampai nanti.

Kalian masih ingat foto ini? Aku iya.


Tertanda,
Nanda
Yang selalu dan selamanya merindukan kalian (kita)



Kamis, 23 April 2015

Puisi Bertema Membangun Revolusi Mental Melalui Seni

Di Persimpangan Jalan
Karya : Nanda Veruna Enun Kharisma ft. Pak Rodi



















Ia menari di persimpangan jalan
Berpeluh dan kumal
Beratapkan langit beralaskan tanah nan kelam
Tak perduli terbakar kulitnya

Dunianya tak mengenali warna dan warni
Hidupnya hanyalah merah dan hijau
Merahmu bernyanyi dan menari
Hijaumu tersandar di tepian dan risau
Berbalut pakaian usang
Menunggu hijau tuk menghilang

Ia menari di persimpangan jalan
Bermandikan debu tak berarti
Melenggok dalam hitungan waktu
Kaki-kaki telanjang mencengkeram
Menawarkan harapan belas kasihan

Bersama kepulan asap yang bergulung di udara
Bersatulah segala cela dan keangkuhan
Yang bersimaharaja
Merebakkan aroma keprihatinan nan lara

Tarianmu adalah untaian perasaan jiwamu
Yang bertahtakan nilai rupiah
Demi bahasa perut yang terkuras atas nama laparmu

Ia menari di persimpangan jalan
Siapakah yang menuntunmu, Tuan?

Duhai debu yang membingkai
Siapakah yang ia cari?
Artikanlah gemulainya tangan dan kaki

Inikah dinamakan olahan jiwa?
Inikah lahirnya mahakarya?
Bukan. Hanyalah tuntutan kehidupan belaka

Wahai tangan-tangan yang di atas
Sentuhlah mereka dengan kuasamu
Wahai tangan-tangan yang di atas
Belailah mereka dengan segenap kasih sayangmu
Wahai tangan-tangan yang di atas
Rengkuhlah mereka dalam eratnya dekapmu

Nun di sana
Lembayung senja masih setia
Menggelayut mesra
Menantikan rembulan untuk bersua

Kala mentari kembali terlelap dalam mimpinya
Gelap pun menyapa malam nan gulita

Terselip secercah harapan
Padamu ya, Tuhan
Sungguh campur tanganmu kudambakan

Tuk esok nan cerah lekas menjelang

Menunggu (I Believe)


“Allah tahu yang aku mau. Tapi Dia juga tahu, yang terbaik buatku.”
        Entah berapa kali aku gagal. Entah sejak kapan aku ingin tahu rasanya menang. Entah pula sampai kapan aku harus menunggu. Keberhasilan demi keberhasilan yang agaknya masih enggan singgah padaku.
        Aku punya Tuhan yang hebat. Allah. Dia tahu bagaimana inginnya aku. Dia tahu bagaimana usahaku. Dia tahu doa-doaku. Dan aku tahu, aku hanya perlu menunggu. Sedikit lebih lama lagi.
‘Sampai kapan aku harus menunggu?’ Aku yakin, sebentar lagi. Sampai Allah mengijinkan. Dan selama aku masih tetap percaya pada-Nya bahwa Dia tak menciptakanku untuk gagal.
        Bayangkan jika aku berputus asa pada kepercayaanku pada-Nya. Itu berarti aku sudah kehilangan kesempatan untuk berhasil. Karena pada saat itu jugalah aku telah gagal. Untuk selamanya. Selama aku tidak kembali membangun rasa percaya itu lagi, yang pastinya sangatlah sulit untuk dilakukan.

       Allah tahu yang aku mau. Tapi aku yakin bahwa Dia juga tahu mana yang lebih baik dan terbaik buatku. Aku percaya akan datang saat di mana semua yang terbaik datang padaku. Selama itu pula aku tak akan berputus pengharapan. Dan terus begitu sampai akhir. Insyaallah. 


Minggu, 08 Februari 2015

Have I Ever?

Hari ini  kupikir aku masih punya waktu setidaknya 2 hari lagi. Sekitar 48 jam. Ternyata, saat aku memasuki ruangan yang selama seminggu ini menjadi saksi perjuangan dan ketidaktotalitasanku, aku menyadari sesuatu...

Rupanya aku bukannya masih memiliki waktu dua hari lagi. Tapi aku hanya tinggal memiliki waktu selama dua hari lagi. Sama-sama dua hari, tapi esensinya berbeda ketika aku memaknainya dengan cara yang berbeda.

Have i ever? 

Pertanyaan ambigu yang tiba-tiba bermunculan di kepalaku. Mendapati ruangan ini tak seramai, senyaman, dan semenyenangkan seperti seminggu yang telah berlalu kemarin. Aku baru tahu bahwa hari ini seharusnya tidak ada pembinaan lagi. Tapi beruntung karena bukan haya aku satu-satu yang tidak tahu. Ada beberapa, sekitar 6 siswa.

Have i ever?

Pertanyaan aneh itu selalu membelengguku. Masih membelengguku. Terus membelengguku.

Have i ever? 

Sebaris pertanyaan tidak jelas itu barangkali seperti ini lengkapnya : Pernahkah aku menyadari tentang segala kesalahanku? Pernahkah aku mencoba memperbaiki segala ekkuranganku? Pernahkah aku merasa siap?

Aku memikirkan semuanya sampai entahlah...

Tok-tok-tok...

Seseorang mengetuk pintu. Di ruangan yang kini hening.

Ternyata si pengetk pintu adalah teman-temanku yang lainnya. Yang seharusnya berada di sini juga.

Kembalilah suasana ruangan ini seperti seminggu terakhir. Kembali menyenangkan.

Have i ever?

Pernahkah aku?


Ya, aku memang belum pernah merasa puas pada usahaku. Dan itu bukan karena aku tidak belajar, but it because i will never ever be satisfied to learn-learn-learn-and learn indeed...

Jumat, 06 Februari 2015

D-3,5 for my last chance

Semua orang memiliki cita-cita, impian, dan target untuk masa depannya. Begitu pun aku.
Aku pernah membaca novel yang berjudul Selalu Ada Kapal Untuk Pulang karya Randu Alamsyah. Dalam novel itu dikisahkan tentang dua orang lelaki yang bersahabat karib sejak kecil. Dunia seolah milik mereka. Persahabatan yang indah. Namun nasib mereka tidak sama. Apin adalah anak dari seorang pasangan kaya dan terpandang. Sedangkan Poy sebaliknya. Namun perbedaan itulah yang menjadi kekuatan dalam persahabatan mereka. Poy dan Apin, the never ending friends...

Tapi yang menjadi dasar dari apa yang akan aku ceritakan bukanlah persahabatan mereka yang lekat seperti jiwa itu. Tapi, tentang perjalanan mimpi mereka. Bisa dikatakan persahabatan mereka yang demikian lekat itu bahkan membuat mimpi dan obsesi mereka sama. Seorang guru.

Mimpi yang pada awalnya tampak sangat sederhana dan dekat itu, ternyata berubah. Di tengh perjalanan yang mereka tempuh demi menggapai mimpi itu, semua berubah. Lebih tepatnya mereka yang berubah. Ambisi itu berubah, mimpi yang indah dan sederhana itu...tidak sama lagi.

Poy memilih menjadi seorang guru sukarelawan di sebuah pesantren di daerah yang bahkan terabaikan oleh peradaban, Luwuk. Mimpi Poy yang semula luar biasa (baginya) itu kini menjadi amat sederhana : seorang guru yang penuh pengabdian dan dedikasi.

Tidak hanya Poy, Apin pun berubah. Bukan seorang guru sukarelawan, tapi jauh lebih canggih lagi : politisi ulung.

Bertahun mereka terpisah, demi menapaki jalur yang sama sekali berbeda. Dan menjadi awal baru bagi kisah hidup mereka... Hingga mereka paham bahwa cita-cita sebenarnya tidak pernah menjadi sederhana...

Andai aku bisa bercerita. Tentang betapa besar ambisi yag bergejolak dalam diriku, jiwaku. Semenjak dulu, ketika aku mulai mengenal apa itu bercita-cita. Namun hingga kini, aku masih belum mampu menggenggam apa yang selama ini menjadi ganjalan besar dalam diriku : kemenangan.

Yah, aku sadar. Aku tidak pernah benar-benar berusaha. Tidak pernah benar-benar membenahi diri atas segala kekurangan dan kesalahan di masa lalu. Bahkan aku selalu menghitung jumlah kegagalanku. Tanpa berusaha memperbaikinya dengan nyata, hanya kata-kata...

Dan tibalah aku kini di puncak ujung kesempatan yang masih kupunya. Bisa dikata, kesempatan terakhirku untuk menjadikan semuanya nyata. Dan bodohnya aku masih merasa, aku belum berbuat apa-apa untuk mempersiapkan diriku menjemput kemenangan.

Hari bergati. Dari H-365 menjadi H-30. Terus menyusut hingga H-7. Dan tanpa terasa hari ini sudah menjadi H-4. Bukan, lebih tepatnya h-3,5.

Apa aku siap? Entahlah. Di sini, di ruangan ini, bersama 10 orang teman-teman yang juga sedang berusaha menggapai mimpi yang sama denganku ini, aku masih bisa bermimpi. Semoga akulah satu di antara orang-orang yang mendapat kesempatan untuk terus belajar dan menjadi sang pemenang.

Biarlah tahun lalu menjadi catatan kegagalan ke-5-ku. Biarlah. Aku tidak akan perduli lagi. Segala yang berlalu tetap akan berada di masa lalu. Tidak masalah buatku hari ini, atau pun besok...

Yang pasti, aku tidak pernah menyesal. Semua ke-belum-berhasil-an itu mengjari satu rumus baru dalam kehidupan, "Untuk berhasil, bukanlah dengan menghitung jumlah kegagalan yang pernah dilalui. Melainkan dengan mengkalkulasi seberapa besarkah kesempatan yang masih kita miliki. Lalu mempersiapkan diri untuk menang, bukan menerima kegagalan."

Di hari yang indah pada H-3,5 menuju kesempatan terakhirku ini, aku akan berkata, "Bahwa aku pasti bisa. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya lagi..."



Bersama jiwa yang penuh semangat, harapan dan keyakinan,
Sang calon pemenang,


Nanda.

Senin, 12 Januari 2015

Menikmati Jam Kosong Bersama Teman-Teman Teristimewa





Sekolah, adalah di mana kita seharusnya mendapatkan ilmu. Belajar demi meraih masa depan yang cerah, secerah mentari pagi. Mempersiapkan diri menuju jalan panjang hidup yang sebenarnya, yaitu saat kita memiliki hidup kita seutuhnya nantinya, ketika dewasa. Dan semua orang pasti memimpikan tempat persinggahan yang indah atas semua mimpi, cita, dan cintanya. Demi semua itu, hampir setiap orang di muka bumi ini berkeinginan untuk sekolah, tapi pada kenyataannya tidak semua anak manusia memiliki kesempatan yang demikian adanya, banyak di luar sana yang harus terpaksa tidak bersekolah. mnghabiskan masa sekolah dengan hal lain yang tidak sewajarnya untuk dilakukan. Mencari nafkah.

Meski terkadang, seorang anak yang diaruniai kelimpahan material, justru memilih untuk tidak bersekolah. Mereka terlena atas kekayaan dan kemudahan, atau, mereka tidak mau berusaha untuk mampu. Dalam arti lain, tidak kuat dalam segi intelektual.

Tapi, Kawan. Bukankah sekarang dunia sudah berbeda? Pemerintah sudah mulai belajar bersikap seadil mungkin dengan meratakan pendidikan di segala bidang dan kalangan. Mempermudah segala akses menuju masa depan bernama pendidikan itu, baik berupa beasiswa maupun bantuan biaya. Kawan, jadilah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan, jangan biarkan kesempatan yang memanfaatkan kita! :D

Hari ini adalah hari kedua dari minggu kedua pada semester kedua di tahun kedua di sekolahku. Orang menyebut sekolah tercintaku ini SABA, SABAYOUTH, atau SABAYOTA. Bagiku semua sama saja, ISTIMEWA. :)

Hari ini pelajarannya cukup menarik. Perpaduan ilmu sosial dan eksak : Kimia, Biologi, PKn, dan Geografi ditambah ekstrakurikuler Design Grafis. Seperti siswa pada umumnya, hampir 7 jam berkutat dengan pelajaran, sangat menjemukan. Semakin lama energi menguap entah ke mana. Ngantuk tiada bisa tertahan. Dan pada tahap kronisnya, apapun yang diucapkan guru bagaikan lewat saja. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Luar biasa!

Seperti impian di siang bolong di atas meja dalam ruangan yang pengap yang menjadi nyata. Jam terakhir, Geografi, KOSONG. Bayaangkan, di tengah kepenatan pelajaran yang membelenggu, tiba-tiba ada kabar bahwa selama dua jam penuh, D-U-A-J-A-M-P-E-N-U-H, pelajaran K-O-S-O-N-G. Sontak 21 kepala yang bergeletakan di atas meja bangun seketika. Dengan rona wajah yang jauh berubah : CERAH BERKILAU SEMANGAT! Kelas semsntara berupa ruang TRRCyang seharusnya menjadi tempat dance yang bahkan punya kaca besar di bagian belakang dan Proyektornya telah dipindah ke kelas baru itu pun berubah menjadi taman bermain atau bahkan SURGA bagi mereka yang (atau tepatnya kami) yang cinta kebebasan. *eak






Alhasil, selama dua jam itu kami refreshing hehe. Ada yang mendengar mp3, nonton anime, ngegame Get Rich kayak Uyik dan Afifah, ngobrol, internetan sampai ada yang saking alimnya : ngaji atau dengerin murotal. Bahkan ada yang kerajinan ngerjain tugas yang ditinggalin guru pada jam itu.  Nama Krisna. Dan kabar gembiranya, tugas itu dikerjakan berkelompok, dan dia anggota kelompokku. :D



Aku? Aku...seperti yang kamu tahu. Harusnya sih namanya nge-Blog! Tapi menurutku ini lebih seperti corat-coret 4l4y di jejaring sosial (yang aku yakin has no viewer ini). Wkwkwk...



Overall, hari ini menyenangkan! Dan aku banyak belajar dari beragam tingkah teman-temanku dalam memanfaatkan waktu yang bebas ini : bahwa semua orang punya caranya masing-masing dalam menikmati hidupnya. Meskipun saatnya bersamaan, tapi pasti hasilnya berbeda. Hehe...



Full of joyness,
Nanda