Hari ini kupikir aku masih punya waktu setidaknya 2 hari lagi. Sekitar 48 jam. Ternyata, saat aku memasuki ruangan yang selama seminggu ini menjadi saksi perjuangan dan ketidaktotalitasanku, aku menyadari sesuatu...
Rupanya aku bukannya masih memiliki waktu dua hari lagi. Tapi aku hanya tinggal memiliki waktu selama dua hari lagi. Sama-sama dua hari, tapi esensinya berbeda ketika aku memaknainya dengan cara yang berbeda.
Have i ever?
Pertanyaan ambigu yang tiba-tiba bermunculan di kepalaku. Mendapati ruangan ini tak seramai, senyaman, dan semenyenangkan seperti seminggu yang telah berlalu kemarin. Aku baru tahu bahwa hari ini seharusnya tidak ada pembinaan lagi. Tapi beruntung karena bukan haya aku satu-satu yang tidak tahu. Ada beberapa, sekitar 6 siswa.
Have i ever?
Pertanyaan aneh itu selalu membelengguku. Masih membelengguku. Terus membelengguku.
Have i ever?
Sebaris pertanyaan tidak jelas itu barangkali seperti ini lengkapnya : Pernahkah aku menyadari tentang segala kesalahanku? Pernahkah aku mencoba memperbaiki segala ekkuranganku? Pernahkah aku merasa siap?
Aku memikirkan semuanya sampai entahlah...
Tok-tok-tok...
Seseorang mengetuk pintu. Di ruangan yang kini hening.
Ternyata si pengetk pintu adalah teman-temanku yang lainnya. Yang seharusnya berada di sini juga.
Kembalilah suasana ruangan ini seperti seminggu terakhir. Kembali menyenangkan.
Have i ever?
Pernahkah aku?
Ya, aku memang belum pernah merasa puas pada usahaku. Dan itu bukan karena aku tidak belajar, but it because i will never ever be satisfied to learn-learn-learn-and learn indeed...
Minggu, 08 Februari 2015
Jumat, 06 Februari 2015
D-3,5 for my last chance
Semua orang memiliki cita-cita, impian, dan target untuk masa depannya. Begitu pun aku.
Aku pernah membaca novel yang berjudul Selalu Ada Kapal Untuk Pulang karya Randu Alamsyah. Dalam novel itu dikisahkan tentang dua orang lelaki yang bersahabat karib sejak kecil. Dunia seolah milik mereka. Persahabatan yang indah. Namun nasib mereka tidak sama. Apin adalah anak dari seorang pasangan kaya dan terpandang. Sedangkan Poy sebaliknya. Namun perbedaan itulah yang menjadi kekuatan dalam persahabatan mereka. Poy dan Apin, the never ending friends...
Tapi yang menjadi dasar dari apa yang akan aku ceritakan bukanlah persahabatan mereka yang lekat seperti jiwa itu. Tapi, tentang perjalanan mimpi mereka. Bisa dikatakan persahabatan mereka yang demikian lekat itu bahkan membuat mimpi dan obsesi mereka sama. Seorang guru.
Mimpi yang pada awalnya tampak sangat sederhana dan dekat itu, ternyata berubah. Di tengh perjalanan yang mereka tempuh demi menggapai mimpi itu, semua berubah. Lebih tepatnya mereka yang berubah. Ambisi itu berubah, mimpi yang indah dan sederhana itu...tidak sama lagi.
Poy memilih menjadi seorang guru sukarelawan di sebuah pesantren di daerah yang bahkan terabaikan oleh peradaban, Luwuk. Mimpi Poy yang semula luar biasa (baginya) itu kini menjadi amat sederhana : seorang guru yang penuh pengabdian dan dedikasi.
Tidak hanya Poy, Apin pun berubah. Bukan seorang guru sukarelawan, tapi jauh lebih canggih lagi : politisi ulung.
Bertahun mereka terpisah, demi menapaki jalur yang sama sekali berbeda. Dan menjadi awal baru bagi kisah hidup mereka... Hingga mereka paham bahwa cita-cita sebenarnya tidak pernah menjadi sederhana...
Andai aku bisa bercerita. Tentang betapa besar ambisi yag bergejolak dalam diriku, jiwaku. Semenjak dulu, ketika aku mulai mengenal apa itu bercita-cita. Namun hingga kini, aku masih belum mampu menggenggam apa yang selama ini menjadi ganjalan besar dalam diriku : kemenangan.
Yah, aku sadar. Aku tidak pernah benar-benar berusaha. Tidak pernah benar-benar membenahi diri atas segala kekurangan dan kesalahan di masa lalu. Bahkan aku selalu menghitung jumlah kegagalanku. Tanpa berusaha memperbaikinya dengan nyata, hanya kata-kata...
Dan tibalah aku kini di puncak ujung kesempatan yang masih kupunya. Bisa dikata, kesempatan terakhirku untuk menjadikan semuanya nyata. Dan bodohnya aku masih merasa, aku belum berbuat apa-apa untuk mempersiapkan diriku menjemput kemenangan.
Hari bergati. Dari H-365 menjadi H-30. Terus menyusut hingga H-7. Dan tanpa terasa hari ini sudah menjadi H-4. Bukan, lebih tepatnya h-3,5.
Apa aku siap? Entahlah. Di sini, di ruangan ini, bersama 10 orang teman-teman yang juga sedang berusaha menggapai mimpi yang sama denganku ini, aku masih bisa bermimpi. Semoga akulah satu di antara orang-orang yang mendapat kesempatan untuk terus belajar dan menjadi sang pemenang.
Biarlah tahun lalu menjadi catatan kegagalan ke-5-ku. Biarlah. Aku tidak akan perduli lagi. Segala yang berlalu tetap akan berada di masa lalu. Tidak masalah buatku hari ini, atau pun besok...
Yang pasti, aku tidak pernah menyesal. Semua ke-belum-berhasil-an itu mengjari satu rumus baru dalam kehidupan, "Untuk berhasil, bukanlah dengan menghitung jumlah kegagalan yang pernah dilalui. Melainkan dengan mengkalkulasi seberapa besarkah kesempatan yang masih kita miliki. Lalu mempersiapkan diri untuk menang, bukan menerima kegagalan."
Di hari yang indah pada H-3,5 menuju kesempatan terakhirku ini, aku akan berkata, "Bahwa aku pasti bisa. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya lagi..."
Bersama jiwa yang penuh semangat, harapan dan keyakinan,
Sang calon pemenang,
Nanda.
Aku pernah membaca novel yang berjudul Selalu Ada Kapal Untuk Pulang karya Randu Alamsyah. Dalam novel itu dikisahkan tentang dua orang lelaki yang bersahabat karib sejak kecil. Dunia seolah milik mereka. Persahabatan yang indah. Namun nasib mereka tidak sama. Apin adalah anak dari seorang pasangan kaya dan terpandang. Sedangkan Poy sebaliknya. Namun perbedaan itulah yang menjadi kekuatan dalam persahabatan mereka. Poy dan Apin, the never ending friends...
Tapi yang menjadi dasar dari apa yang akan aku ceritakan bukanlah persahabatan mereka yang lekat seperti jiwa itu. Tapi, tentang perjalanan mimpi mereka. Bisa dikatakan persahabatan mereka yang demikian lekat itu bahkan membuat mimpi dan obsesi mereka sama. Seorang guru.
Mimpi yang pada awalnya tampak sangat sederhana dan dekat itu, ternyata berubah. Di tengh perjalanan yang mereka tempuh demi menggapai mimpi itu, semua berubah. Lebih tepatnya mereka yang berubah. Ambisi itu berubah, mimpi yang indah dan sederhana itu...tidak sama lagi.
Poy memilih menjadi seorang guru sukarelawan di sebuah pesantren di daerah yang bahkan terabaikan oleh peradaban, Luwuk. Mimpi Poy yang semula luar biasa (baginya) itu kini menjadi amat sederhana : seorang guru yang penuh pengabdian dan dedikasi.
Tidak hanya Poy, Apin pun berubah. Bukan seorang guru sukarelawan, tapi jauh lebih canggih lagi : politisi ulung.
Bertahun mereka terpisah, demi menapaki jalur yang sama sekali berbeda. Dan menjadi awal baru bagi kisah hidup mereka... Hingga mereka paham bahwa cita-cita sebenarnya tidak pernah menjadi sederhana...
Andai aku bisa bercerita. Tentang betapa besar ambisi yag bergejolak dalam diriku, jiwaku. Semenjak dulu, ketika aku mulai mengenal apa itu bercita-cita. Namun hingga kini, aku masih belum mampu menggenggam apa yang selama ini menjadi ganjalan besar dalam diriku : kemenangan.
Yah, aku sadar. Aku tidak pernah benar-benar berusaha. Tidak pernah benar-benar membenahi diri atas segala kekurangan dan kesalahan di masa lalu. Bahkan aku selalu menghitung jumlah kegagalanku. Tanpa berusaha memperbaikinya dengan nyata, hanya kata-kata...
Dan tibalah aku kini di puncak ujung kesempatan yang masih kupunya. Bisa dikata, kesempatan terakhirku untuk menjadikan semuanya nyata. Dan bodohnya aku masih merasa, aku belum berbuat apa-apa untuk mempersiapkan diriku menjemput kemenangan.
Hari bergati. Dari H-365 menjadi H-30. Terus menyusut hingga H-7. Dan tanpa terasa hari ini sudah menjadi H-4. Bukan, lebih tepatnya h-3,5.
Apa aku siap? Entahlah. Di sini, di ruangan ini, bersama 10 orang teman-teman yang juga sedang berusaha menggapai mimpi yang sama denganku ini, aku masih bisa bermimpi. Semoga akulah satu di antara orang-orang yang mendapat kesempatan untuk terus belajar dan menjadi sang pemenang.
Biarlah tahun lalu menjadi catatan kegagalan ke-5-ku. Biarlah. Aku tidak akan perduli lagi. Segala yang berlalu tetap akan berada di masa lalu. Tidak masalah buatku hari ini, atau pun besok...
Yang pasti, aku tidak pernah menyesal. Semua ke-belum-berhasil-an itu mengjari satu rumus baru dalam kehidupan, "Untuk berhasil, bukanlah dengan menghitung jumlah kegagalan yang pernah dilalui. Melainkan dengan mengkalkulasi seberapa besarkah kesempatan yang masih kita miliki. Lalu mempersiapkan diri untuk menang, bukan menerima kegagalan."
Di hari yang indah pada H-3,5 menuju kesempatan terakhirku ini, aku akan berkata, "Bahwa aku pasti bisa. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan semuanya lagi..."
Bersama jiwa yang penuh semangat, harapan dan keyakinan,
Sang calon pemenang,
Nanda.
Senin, 12 Januari 2015
Menikmati Jam Kosong Bersama Teman-Teman Teristimewa
Sekolah, adalah di mana kita seharusnya mendapatkan ilmu. Belajar demi meraih masa depan yang cerah, secerah mentari pagi. Mempersiapkan diri menuju jalan panjang hidup yang sebenarnya, yaitu saat kita memiliki hidup kita seutuhnya nantinya, ketika dewasa. Dan semua orang pasti memimpikan tempat persinggahan yang indah atas semua mimpi, cita, dan cintanya. Demi semua itu, hampir setiap orang di muka bumi ini berkeinginan untuk sekolah, tapi pada kenyataannya tidak semua anak manusia memiliki kesempatan yang demikian adanya, banyak di luar sana yang harus terpaksa tidak bersekolah. mnghabiskan masa sekolah dengan hal lain yang tidak sewajarnya untuk dilakukan. Mencari nafkah.
Meski terkadang, seorang anak yang diaruniai kelimpahan material, justru memilih untuk tidak bersekolah. Mereka terlena atas kekayaan dan kemudahan, atau, mereka tidak mau berusaha untuk mampu. Dalam arti lain, tidak kuat dalam segi intelektual.
Tapi, Kawan. Bukankah sekarang dunia sudah berbeda? Pemerintah sudah mulai belajar bersikap seadil mungkin dengan meratakan pendidikan di segala bidang dan kalangan. Mempermudah segala akses menuju masa depan bernama pendidikan itu, baik berupa beasiswa maupun bantuan biaya. Kawan, jadilah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan, jangan biarkan kesempatan yang memanfaatkan kita! :D
Hari ini adalah hari kedua dari minggu kedua pada semester kedua di tahun kedua di sekolahku. Orang menyebut sekolah tercintaku ini SABA, SABAYOUTH, atau SABAYOTA. Bagiku semua sama saja, ISTIMEWA. :)
Hari ini pelajarannya cukup menarik. Perpaduan ilmu sosial dan eksak : Kimia, Biologi, PKn, dan Geografi ditambah ekstrakurikuler Design Grafis. Seperti siswa pada umumnya, hampir 7 jam berkutat dengan pelajaran, sangat menjemukan. Semakin lama energi menguap entah ke mana. Ngantuk tiada bisa tertahan. Dan pada tahap kronisnya, apapun yang diucapkan guru bagaikan lewat saja. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Luar biasa!
Seperti impian di siang bolong di atas meja dalam ruangan yang pengap yang menjadi nyata. Jam terakhir, Geografi, KOSONG. Bayaangkan, di tengah kepenatan pelajaran yang membelenggu, tiba-tiba ada kabar bahwa selama dua jam penuh, D-U-A-J-A-M-P-E-N-U-H, pelajaran K-O-S-O-N-G. Sontak 21 kepala yang bergeletakan di atas meja bangun seketika. Dengan rona wajah yang jauh berubah : CERAH BERKILAU SEMANGAT! Kelas semsntara berupa ruang TRRCyang seharusnya menjadi tempat dance yang bahkan punya kaca besar di bagian belakang dan Proyektornya telah dipindah ke kelas baru itu pun berubah menjadi taman bermain atau bahkan SURGA bagi mereka yang (atau tepatnya kami) yang cinta kebebasan. *eak
Alhasil, selama dua jam itu kami refreshing hehe. Ada yang mendengar mp3, nonton anime, ngegame Get Rich kayak Uyik dan Afifah, ngobrol, internetan sampai ada yang saking alimnya : ngaji atau dengerin murotal. Bahkan ada yang kerajinan ngerjain tugas yang ditinggalin guru pada jam itu. Nama Krisna. Dan kabar gembiranya, tugas itu dikerjakan berkelompok, dan dia anggota kelompokku. :D
Aku? Aku...seperti yang kamu tahu. Harusnya sih namanya nge-Blog! Tapi menurutku ini lebih seperti corat-coret 4l4y di jejaring sosial (yang aku yakin has no viewer ini). Wkwkwk...
Overall, hari ini menyenangkan! Dan aku banyak belajar dari beragam tingkah teman-temanku dalam memanfaatkan waktu yang bebas ini : bahwa semua orang punya caranya masing-masing dalam menikmati hidupnya. Meskipun saatnya bersamaan, tapi pasti hasilnya berbeda. Hehe...
Full of joyness,
Nanda
Senin, 08 Desember 2014
Ragu
Kemarin, aku tiba-tiba, entah mengapa, merasa bahwa apalah hidup ini? Semua terasa hambar. Lalu aku bicara pada ibu soal ini. Jarang sekali, aku membicarakan tentang sesuatu yang aneh semacam ini. Aku bertanya, apalah mimpi ibu untukku sebenarnya? Ia ingin aku menjadi apa?
Dan yang ibu katakan hanya satu, "Terserah kamu. Apapun yang kamu inginkan."
Tentu itu bukanlah jawaban yang aku mau. Tidak mengobati apa pun. Tidak memperjelas apa pun. Rumit.
Lalu diam beberapa saat. Apa yang aku inginkan? Apa yang aku ingin lakukan di masa depan?
Lalu aku bilang pada ibu, tentang hatiku yang tiba-tiba merasa hidup ini begitu hambar. Ibu menjawab plan, katanya, itu karena aku terlalu monoton dalam menjalani hidup ini. Mungkin ibu benar. Itulah jawabannya.
Tapi, apa yang harus lakukan? Bagaimanalah, selama ini aku hanya menjalani hidupku yang berputar-putar pada satu rutinitas yang tidak pernah berubah.
Senja merah muda yang menggurat di ufuk barat sore ini, membuatku semakin ragu. Itulah aku. Merah jambu. Tidak pasti. Tidak merah dan tidak putih. Aku seakan setengah-setengah dalam semua hal.
Malam itu aku hanya terlelap di samping ibu. Membawa tidur seluruh pertanyaan dan kegusaran hati. Aku bahkan tidak belajar barang sedikit. Padahal paginya adalah USMP hari terakhir. Meski mater yang diujikan tidaklah begitu penting, tapi aku benar-benar merasa bersalah pada pagi harinya.
Hingga senja hampir kembali datang, aku masih ragu. Maka aku akan menunggu, warna apakah yang akan senja hadirkan untukku kali ini. Merah muda? Jingga? Keemasan? Atau hitam dan gelap, segulita hati ini. Entahlah...
Dan yang ibu katakan hanya satu, "Terserah kamu. Apapun yang kamu inginkan."
Tentu itu bukanlah jawaban yang aku mau. Tidak mengobati apa pun. Tidak memperjelas apa pun. Rumit.
Lalu diam beberapa saat. Apa yang aku inginkan? Apa yang aku ingin lakukan di masa depan?
Lalu aku bilang pada ibu, tentang hatiku yang tiba-tiba merasa hidup ini begitu hambar. Ibu menjawab plan, katanya, itu karena aku terlalu monoton dalam menjalani hidup ini. Mungkin ibu benar. Itulah jawabannya.
Tapi, apa yang harus lakukan? Bagaimanalah, selama ini aku hanya menjalani hidupku yang berputar-putar pada satu rutinitas yang tidak pernah berubah.
Senja merah muda yang menggurat di ufuk barat sore ini, membuatku semakin ragu. Itulah aku. Merah jambu. Tidak pasti. Tidak merah dan tidak putih. Aku seakan setengah-setengah dalam semua hal.
Malam itu aku hanya terlelap di samping ibu. Membawa tidur seluruh pertanyaan dan kegusaran hati. Aku bahkan tidak belajar barang sedikit. Padahal paginya adalah USMP hari terakhir. Meski mater yang diujikan tidaklah begitu penting, tapi aku benar-benar merasa bersalah pada pagi harinya.
Hingga senja hampir kembali datang, aku masih ragu. Maka aku akan menunggu, warna apakah yang akan senja hadirkan untukku kali ini. Merah muda? Jingga? Keemasan? Atau hitam dan gelap, segulita hati ini. Entahlah...
Langganan:
Postingan (Atom)
